PEE MAK PHRA KHANONG

PEE MAK PHRA KHANONG
Kisah dalam film ini terjadi pada saat Thailand masih bernama Siam dan berada dibawah pemerintahan Raja Mongkut yang berarti ber-setting sekitar tahun 1850-1860-an. Saat itu Mak (Mario Maurer) bersama kuartet bodoh Aey, Ter, Shin dan Puak sedang berada di medan perang. Mak meninggalkan istrinya Nak (Davika Hoorne) yang tengah hamil tua. Setelah perang usai, Mak dan keempat temannya tersebut pulang untuk menemui Nak yang ternyata telah melahirkan. Namun setelah kepulangannya tersebut Mak justru mendapat kabar tidak enak dari seisi kampung yang mengatakan bahwa Nak sudah meninggal dan menjadi hantu. Mak tidak begitu saja percaya tapi satu per satu kejadian horor mulai menimpa Mak dan teman-temannya. Film ini memang kurang ajar. Disaat saya berharap mendapatkan kembali teror mengerikan yang kini susah ditemukan dalam industri perfilman Thailand, sang master horor Negeri Gajah Putih tersebut justru membuat sebuah tontonan mengenai cerita rakyat horor yang ia rombak menjadi penuh kekonyolan demi kekonyolan yang pada akhirnya menjadikan Pee Mak justru lebih kental unsur komedi daripada horornya.

Setelah adegan pembukanya yang cukup meyakinkan bahwa Pee Mak merupakan film horor yang menyeramkan, saya langsung “dikejutkan” saat tone film berubah 180 derajat disaat kita dibawa melihat kondisi peperangan.Melihat potongan rambut menggelikan para karakternya, hingga obrolan yang (maunya) memantik semangat juang namun diselipin referensi film-film macam 300, Rocky hingga The Last Samurai padahal filmnya ber-setting jauh sebelum benda bernama film eksis saya langsung sadar bahwa daripada Shutter film ini akan lebih mirip segmen Man in the Middle ataupun In the End. Bahkan pada akhirnya porsi komedi yang mayoritas dibebankan pada kuartet konyol tersebut jauh lebih besar daripada porsi horornya sekalipun. Mungkin Pee Mak sejak awal sudah berlabel horor-komedi namun pada akhirnya saya merasa film ini lebih tepat disebut parodi. Karena akhirnya pun momen seram yang ditampilkan seringkali berakhir lucu berkat keempat tokoh tersebut. Saya yang berharap mendapat sajian horor mengerikan pada awalnya sedikit kecewa tapi perlahan saya pun terpuaskan saat humor konyolnya selalu tepat sasaran dan membuat saya tertawa terbahak-bahak tidak hanya sekali dua kali namun berkali-kali.

Baca Juga  ATM Errak Error

Namun Pee Mak tidak lantas menjadi sajian konyol nan tolol yang asal-asalan karena baik itu konten humor yang penuh referensi, pembawaan para aktornya hingga timing dimunculkannya humor tersebut selalu sempurna. Dengan segala kteololan karakter dan kekonyolan humornya Pee Mak membuktikan pernyataan bahwa idiot dan jenius itu berbeda tipis memang benar adanya. Tidak hanya komedi, bagi anda yang sebelumnya pernah mendengar cerita Nang Nak pasti tahu bahwa akan ada unsur romansa yang cukup menyedihkan dalam cerita tersebut. Banjon Pisanthanakun pun masih akan menyajikan aspek romansa yang kuat. Tidak terlalu banyak, cukup berikan sebuah momen saat Mak dan Nak berdua mengunjungi pasar malam yang indah sambil tertawa bersama dan sesekali melontarkan rayuan gombal maka terciptalah sebuah adegan klise namun terasa indah, romantis dan cukup menyentuh. Momen tersebut akhirnya sudah mewakili kisah cinta Mak dan Nak. Romansanya sendiri secara keseluruhan berkisah tentang cinta sejati yang tidak mengenal bentuk dan sosok yang dicintai. Ini adalah “pesan” supaya kita tidak memandang buruk hal apapun tanpa mengenal hal itu lebih jauh. Bagi saya Pee Mak berkisah akan hal-hal tersebut daripada sekedar menebak “siapa sebenarnya yang hantu?”

Jadi humornya sangat berhasil, romansanya cukup menggigit, pesan moralnya cukup terasa, lalu bagaimana dengan horornya sendiri? Sayangnya dibandingkan aspek-aspek tersebut horor dalam film ini terasa tenggelam. Tidak buruk sebenarnya mengingat beberapa atmosfer mencekam dan tegang masih mampu dibangun namun sayang semuanya tenggelam oleh begitu bersinarnya aspek komedi yang ada. Misteri tentang siapa sebenarnya yang hantu sekilas mudah ditebak diawal tapi semakin mendekati klimaks misteri itu jadi semakin menarik dan dibumbui beberapa twist. Jika ada yang benar-benar mengganggu sesungguhnya bukan rasa horor yang kurang melainkan klimaksnya yang terlalu diulur-ulur. Momen dalam kuil tersebut dimulai cukup menarik jika saja setelah itu tidak ada tarik ulur kejar-kejaran dengan sang hantu yang terlalu lama dan diulang-ulang ataupun rangkaian dialog romansa cheesy yang berlebihan antara Mak dan Nak. Sayang sekali tensi yang dibangun justru dirusak oleh klimaksnya yang terlalu panjang. Untung film ini diakhiri dengan sebuah credit scene yang kembali memunculkan tawa demi tawa yang membangkitkan kembali rasa suka saya kepada film ini.

Baca Juga  Profil dan Biografi Syahrini "Sang Princess Jambul Katulistiwa"

Bicara soal jajaran cast, jelas yang paling bersinar adalah kuartet Kantapat Permpoonpatcharasuk, Nuttapong Chartpong, Wiwat Kongrasri dan Pongsathorn Jongwilak yang dengan kompak dan sempurna menebar humor demi humor yang begitu efektif. Davika Hoorne selain cantik ia mampu memberikan kesan misterius sekaligus creepy yang cukup baik meski keteteran saat harus menampilkan adegan penuh haru di akhir film. Mario Maurer? Yah sosoknya seperti menjadi penarik minat penonton khususnya kaum hawa saja karena sosoknya paling mengganggu disini. Penghantaran komedinya tidak terlalu buruk namun chemistry dan momen romansanya dengan Davika Hoorne menjadi terasa hambar karena sosoknya yang terlalu childish. Secara keseluruhan Pee Mak Phra Khanong adalah hiburan yang sangat menyenangkan. Jika anda berekspektasi mendapatkan tontonan horor mencekam mungkin itu tidak akan anda dapatkan tapi setidaknya anda tetap akan terhibur oleh film ini.